Indonesia equity market 2018_preview

Good Morning,

 

Indeks utama Wall Street pada perdagangan kemarin (21/12) ditutup turun sebesar 414 poin atau 1,8% (DJIA), sementara untuk S&P500 sebesar 51 poin atau 2,1%, dan Nasdaq sebesar 195 poin atau 3,0%.  Aksi jual minggu ini (17/12 – 21/12)  di Wall Street telah menghapus keuntungan selama setahun di 2018,  dan sampai penutupan kemarin DJIA mencatatkan penurunan sebesar 9,2%, sementara indeks S&P500 dan Nasdaq masing-masing sebesar 9,6% dan 8,3%. 2 (dua) faktor utama dibalik pelemahan masif minggu ini di pasar saham Amerika Serikat (AS) adalah 1) langkah bank sentral AS the Fed ke depan yang tetap akan mengurangi beban neraca institusi tersebut dengan menjual obligasi sebesar USD50bn/bulan seperti yang sudah dilaksanakan saat ini. Obligasi tersebut merupakan bagian dari akumulasi yang dilakukan bank sentral AS sejak periode Quantitative Easing. Pemodal saham AS kecewa dengan langkah ini mengingat the Fed pada saat yang sama juga tetap meningkatkan suku bunga acuan sebesar 25bp, di tengah ketidakpastian yang meliputi kesepakatan dagang antara AS dengan Cina dan peristiwa politik di sebahagian besar negara Uni Eropa.2) politik dalam negeri AS saat ini tidak kondusif terhadap pemodal di Wall Street atas potensi jalan buntu pengucuran anggaran negara AS tahun depan. Presiden Trump telah memberi indikasi kepada Senate melalui cuitan terkini bahwa dia tidak akan menandatangani anggaran tanpa persetujuan Senate untuk pembangunan tembok di perbatasan Meksiko. Selama ini, Senate yang didominasi anggota dari partai Demokrat telah menunjukkan keberatan mengenai pembangunan tembok tersebut. 3) telah dikutip di media kemarin bahwa ada potensi kesepakatan dagang antara AS dan Cina tidak memberikan win-win solution pada batas waktu akhir Februari 2019.

 

Sementara itu pasar saham Indonesia minggu ini turun sebesar 0,1% dan sebesar 8,3% sejak awal    tahun, terutama dipicu oleh faktor perang dagang antara AS dan Cina yang dimulai akhir Februari tahun ini. Isu perang dagang tersebut telah memberi dampak pada (1) gerak USDIDDR yang sempat depresiasi ke level IDR15.253  kurs JISDOR pada Oktober tahun ini, (2) pelemahan harga komoditas dimana selama 2018 harga minyak WTI turun sebesar 13,5% YoY di USD45,6 pada penutupan kemarin, dan CPO sebesar 12,9%  YoY dii MYR2.133/ton. Sementara harga batubara masih membukukan kenaikan sebesar 1,4% YoY di USD101,7/ton vs. + 15% YoY pada awal Januari 2018.

Baik ekonomi dan perusahaan Indonesia mencatatkan kinerja yang baik tahun ini menanggapi gejolak   global di atas dengan petumbuhan ekonomi selama 9M18 tercatat sebesar 5,17% YoY dan pendapatan perusahaan tercatat kapitalisasi besar mencatatkan pertumbuhan sebesar 10 – 15% YoY pada periode yang sama.

Posisi fiskal ekonomi Indonesia per akhir Oktober 2018 mencatatkan kinerja yang baik dengan defisit anggaran ditekan di bawah 2% yaitu pada 1,6% terhadap PDB atas pertumbuhan ekonomi sebesar 5,17% yang diwarnai oleh peran impor yang meningkat signifikan tahun ini.

Demikian juga dengan situasi moneter juga terkendali dengan baik dimana bank sentral Bank Indonesia pada Kamis (20/12) telah merampungkan agenda kebijakan tingkat suku bunga acuan BI7d-RR yang ditetapkan pada 6% akhir tahun ini, naik bertahap sebesar 25bp di bulan Mei dari tingkat 4,25% sebelumnya (April). Dengan pendekatan bank sentral BI selama ini 𝘣𝘦𝘪𝘯𝘨 𝘢𝘩𝘦𝘢𝘥 𝘰𝘧 𝘵𝘩𝘦 𝘤𝘶𝘳𝘷𝘦 diperkirakan akan memberi keleluasaan bagi pemangku kepentingan untuk membuat keputusan dalam iklim moneter yang stabil. Lebih jauh lagi, dengan keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk menurunkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan 𝘵𝘩𝘦 𝘧𝘦𝘥 𝘧𝘶𝘯𝘥𝘴 𝘳𝘢𝘵𝘦 dari 3x menjadi 2x pada tahun 2019,  hal ini turut memberikan dampak positif untuk sektor keuangan Indonesia. Ketua BI juga pada rapat dewan Gubernur bulan Desember menyampaikan telah terjadi surplus dana asing sebesar USD7,9bn termasuk dari surat utang, saham, dan penerbitan obligasi global korporasi selama November,  yang memberi dampak baik untuk 4Q18 sehingga untuk 4Q18 diperkirakan neraca pembayaran akan mengalami surplus vs defisit sampa akhir September ( (3Q18: USD4,4bn, 2Q18: USD4,3bn, 1Q18: USD3,9bn). Perkiraan surplus neraca pembayaran Indonesia memberi indikasi bahwa Indonesia kembali menjadi tujuan investasi yang menarik baik untuk pemodal asing/domestik.

Pemodal saham Indonesia disarankan tetap dalam pendekatan optimistik dan waspada menghadapi aktifitas investasi di perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia tahun 2019. Saat ini Analisa Saham Indonesia sedang dalam proses revisi target IHSG untuk 2019 dimana target akhir tahun ini pada 6.100pt sudah tercapai. Untuk saham rekomendasi silakan cermati laporan rekomendasi per 3Q18.

 

 

Cheers,

 

Download

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *