GGRM 3Q18
Selama 9M18 Gudang Garam mencatatkan penjualan mencapai IDR69,9tr atau naik 13,6% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu (9M17). Pada saat biaya pokok penjualan memberi tekanan dengan naik sebesar 16,1% YoY, biaya operasi selama 9M18 bisa mengimbangi dengan mencatatkan kenaikan tipis sebesar 2,1% menjadi total IDR5,5tr sehingga marjin lapa operasi untuk 9M18 tercatat sebesar 11,7% vs. 12,6% pada 9M17. Sehingga laba bersih selama 9M18 mencatatakan kenaikan sebesar 5,6% YoY sebesar IDR5,8tr dengan marjin laba bersih pada 8,2% vs. 8,8% pada 9M17. Pencapaian pertumbuhan penjualan dan laba bersih perseroan selama 9M18 cemerlang dibanding dengan pencapaian sektor, IHSG, dan ekonomi nasional.Perseroan mendapat tantangan terutama dari volume industry rokok Indonesia yang cenderung datar bahkan tahun lalu mencatatkan total penjualan yang turun sebesar 1,9% YoY. Sementara, porsi terbesar biaya pokok penjualan yaitu cukai diputuskan naik sebesar 10% YoY tahun ini.
Fokus pada segmen
Selama 9M18 kami memperkirakan GGRM mendapat kontribusi yang baik dari segmen SKM full flavor (SKM FF) antara lain dari merek Gudang Garam Merah dan Gudang Garam International. Tahun lalu , GGRM mencatatkan kenaikan volume penjualan untuk segmen SKM FF sebesar 5,1% YoY vs. 4,8% industri, sementara total penjualan perseroan naik sebesar 2% YoY. Dengan persaingan ketat di pasar SKM FF, strategi penetapan dan jadwal kenaikan harga harus ditentukan dengan cermat, dua hal krusial yang menentukan pertumbuhan pendapatan. Dengan pengendalian biaya yang baik, pertumbuhan pendapatan dan laba bersih bisa berada di atas rata-rata sektor dan ekonomi.
Rekomendasi dan Valuasi
Kami rekomendasi pemodal BUY untuk saham emiten GGRM terutama atas valuasi yang menarik dibandingkan dengan potensi pertumbuhan pendapatan (lihat tabel). Untuk sektor konsumer Indonesia, atas pasar yang gigantic, valuasi PE rata-rata mencapai di atas 25x estimasi pendapatan. Selain itu, dividen yang dibayarkan perseroan memberikan imbal hasil di atas 3% atau lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industry di kisaran 1-2%. Sementara itu, berdasarkan perhitungan Discounted Cash Flow (DCF) dengan nilai pertumbuhan pendapatan 7-11% untuk 3 tahun ke depan, dan lebih rendah selebihanya (WACC: 11%, TLG:5%) kami mendapatkan nilai wajar sebesar IDR88,000/saham. Sejauh ini industri rokok Indonesia mencerminkan situasi win-win solution bagi pemangku-kepentingan.