US Economy 3Q18
Kinerja 3Q18
Setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 4,2% YoY pada 2Q18, ekonomi Amerika Serikat (AS) kembali membukukan kinerja yang baik untuk 3Q18 yaitu sebesar 3,5% YoY (1Q18:2,2%). Reformasi pajak atau Tax Cuts dan Job Act (TCJA) yang digulirkan sejak awal tahun ini diperkirakan telah menjadi bahan bakar pertumbuhan ekonomi AS dimana konsumsi swasta tumbuh sebesar 4,0% YoY pada 3Q18 (2Q18:3,8%, 1Q18:0,5%). Reformasi pajak yang digulirkan administrasi Trump meliputi simplifikasi, penurunan tarif, dan insentif baik untuk individu, korporasi, dan aktifitas investasi. Konsumsi swasta merupakan merupakan penyumbang tertinggi ekonomi AS sebesar 2,69ppt pada 3Q18 (2Q18:2,57ppt, 1Q18:0,36ppt). Selanjutnya, pengeluaran investasi pada 3Q18 naik sebesar 12% YoY (2Q18:-0,5%, 1Q18:9,6%) memberikan kontribusi tertinggi kedua untuk pertumbuhan ekonomi AS sebesar 2,03ppt pada 3Q18 )2Q18:-0,07ppt, 1Q18:1,61%). Sementara itu, pengeluaran pemerintah AS tumbuh stabil sebesar 3,3% YoY pada 3Q18 (2Q18:2,5%, 1Q18:1,5%) dimana pos ini menyumbang sebesar 0,56ppt terhadap pertumbuhan ekonomi AS di 3Q18 atau pada peringkat ketiga (2Q18:0,43ppt, 1Q18:0,27ppt0. Dilain pihak, pos perdagangan internasional AS yaitu net ekspor dan impor, tumbuh negatif pada 3Q18 yaitu sebesar -3,5% YoY (2Q18:9,3%, 1Q18:3,6%).
Akselerasi tertinggi
Pencapaian pertumbuhan ekonomi AS pada 3Q18, walaupun melambat dibandingkan dengan 2Q18 tetap merupakan nilai tertinggi tercatat dibandingkan setidaknya belasan kuartal yang lalu (lihat Grafik 1), dan sedikit di atas estimasi konsensus.
Pos lain yang mengiringi ekspansi
Grafik (2) memperlihatkan tren naik baik tingkat inflasi umum (CPI) maupun kategori Personal Consumption Expenditures yaitu tidak masukkan unsur pengeluaran makanan bergejolak dan enerji telah berada sedikit di atas rujukan yang telah ditetapkan bank sentral AS Federal Reserve (the Fed). Sejak awal tahun, kenaikan CPI telah berada di atas 2% YoY, sementara rujukan yang lebih diutamakan the Fed telah berada pada tingkat tersebut. Tingkat pengangguran AS (Grafik 3) memperlihatkan perbaikan yang berkelanjutan yang mencerminkan faktor permintaan buruh yang lebih sehat dari tahun ke tahun.
Kenaikan valuasi asset beresiko
Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, salah satu indeks saham utama AS yaitu DJIA sebagai indikator asset beresiko telah naik pesat terutama dalam periode awal Juli tahun ini dan mencatatkan nilai tertinggi dalam sejarah pada 26.828pt (DJIA) pada awal Oktober (12/06: 12.463pt) dan konsolidasi sesudahnya. Sementara imbal hasil obligasi negara
AS dengan tenor 10 tahun mencatatkan tren menurun sejak 2006 (lihat Grafik 4).
Tingkat suku bunga rujukan AS
Perkembangan terkini ekonomi AS telah memicu bank sentral the Fed menaikkan tingkat suku bunga rujukan (lihat Grafik 5) yang jelas pada tahun lalu dan dengan tempo yang pesat tahun ini. Perkembangan ekonomi AS pada 3Q18 sudah hampir memastikan bahwa kenaikan sebesar 25bp lagi akan terjadi pada Desember , seperti estimasi konsensus saat ini.
Kesimpulan
- Dampak positif dari reformasi pajak diperkirakan tetap akan memicu pertumbuhan ekonomi AS dimana the Fed estimasi pertumbuhan ekonomi AS sebesar 3,1% YoY (2018: 2,4% YoY).
- Bank sentral AS diperkirakan tetap dalam tren kebijakan moneter
ketat mengingat tren inflasi dan tenaga kerja, untuk tahun depan.
- Namun demikian, isu perang dagang antara AS dan Cina diperkirakan akan membuat skenario ekonomi tahun depan menjadi lebih rumit mengingat volume perdagangan antara AS dan Cina akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi global.
Indonesia diperkirakan telah antisipasi dan memperhitungkan perkembangan di atas dan tercermin dalam kenaikan bertahap suku bunga acuan BI7D-RR sejak Agustus.